Kerja sama atau sama sama kerja?

Artikel yang bagus,Saya repost ini dari sini. Selamat membaca

Mengasah Kecakapan Bekerja dengan Team
Oleh : Ubaydillah, AN

Bekerja sama dan Sama-sama Kerja

Para ahli yang diilahami oleh perkembangan fakta-fakta di dunia kerja berkesimpulan bahwa sekarang ini adalah era kejayaan tim. Maksudnya, tidak ada orang yang bisa jaya atau minimalnya survive dengan bekerja sendirian.
Lebih-lebih lagi kalau dikaitkan dengan prediksi para ahli tentang tren emploiment ke depan. Untuk orang yang punya skill di bidangnya dengan skala menengah ke atas, tren yang akan berlaku adalah “agreement”, bukan “employment”.

Agreement di situ maksudnya adalah model ikatan kerja yang kita jalankan berupa kesepakatan yang telah kita buat dengan penyedia pekerjaan atau pemilik peluang, misalnya perusahaan atau pengusaha. Pada kondisi ini, kecakapan dalam bekerjasama dengan tim menjadi kunci. Ini berbeda dengan employment. Ikatan kerja yang harus kita jalankan adalah hubungan ke-karyawan- an.

Bekerja dengan team itu identik dengan bekerjasama, bukan sama-sama kerja.
Bekerjasama artinya seluruh yang kita lakukan memiliki hubungan, yang oleh Covey, disebut kesalingbergantungan, sinergy. Kekuatan kita akan berpengaruh dan dipengaruhi pada kekuatan lain. Ini agak berbeda dengan sama-sama kerja. Bisa dibilang kita masa bodoh dengan orang lain. Pokoknya kita kerja menurut aturan kita dan orang lain juga begitu. Itulah sama-sama kerja.

Pada tataran pengetahuan atau wawasan (level kognitif), semua orang sudah tahu betapa pentingnya kecakapan bekerja dengan team itu. Cuma, yang menjadi masalah adalah prakteknya. Beberapa komentar mengatakan bahwa kita ini, bangsa Indonesia, umumnya punya kelemahan fatal dalam hal bekerja dengan team. Komentar ini memang tidak seluruhnya benar. Tapi juga tidak bisa dibilang semuanya salah

 

Indikator abstraktif yang bisa kita jumpai itu antara lain misalnya:
sebagian kita itu tidak bisa dipimpin, tetapi diminta menjadi pemimpin juga belum mampu. Padahal, idealnya adalah, kalau kita belum mampu memimpin, kita harus siap untuk dipimpin. Lagi, sebagian kita masih belum terlatih berkomunikasi secara asertif atau dialogis. Yang sering terjadi adalah perdebatan atau model komunikasi yang pasif-submisif (tak punya pendirian yang jelas), atau aktif-agresif (cenderung memaksakan kehendak). Dan lagi, sebagian kita kalau konflik biasanya mengarah kepada orangnya, bukan ke persoalannya. Konflik yang mengarah pada orang itu biasanya berlangsung lama dan terkadang membuat kita bisa kehilangan perspektif yang sehat tentang seseorang. Perspektif yang demikian ini sangat berpotensi melahirkan konflik yang tidak produktif.

Kalau menelah temuan-temuan mutakhir di dunia kerja, fakta-fakta di atas ternyata tidak saja dialami oleh bangsa kita. Bangsa-bangsa lain di duniapun punya persoalan yang sama. Bahkan kalau membaca laporan sebuah lembaga di Amerika tentang angkatan kerja baru, ternyata ini juga menjadi persoalan mereka (”Are They Really Ready To Work”, The Conference Board, Inc: 2006).
Angkatan kerja baru di sana punya masalah antara lain: skill / kompetensi, profesionalisme / etika kerja, komunikasi (lisan & tulisan), berpikir kritis/ problem solving, dan kerjasama kelompok / teamwork.

Skala Kecakapan Ber-team

Kalau menelaah teori-teori kompetensi, bekerja dengan team itu termasuk kompetensi. Salah satu unsur pokok dalam kompetensi adalah adanya skala yang mengukur kemampuan seseorang. Artinya, kemampuan / kecakapan seseorang di bidang ini memang berbeda-beda skalanya. Ada yang masih punya skala rendah, ada yang sudah menengah, dan ada yang sudah mencapai level tinggi.

Sekedar sebagai gambaran, di bawah ini bisa kita baca penjelasan yang dapat kita gunakan sebagai acuan untuk mengukur kecakapan-diri:

Skala Keterangan
-1 Kita tidak kooperatif atau selalu menggeluarkan protes / interupsi yang mengganggu.
0 Kita netral dan pasif, tidak berpartisipasi dan tidak pula merasa sebagai anggota team
1 Kita kooperatif, punya semangat untuk berpartisipasi, mendukung keputusan team dan bisa menjadi pemain yang bagus bagi sebuah team, sering bekerja dengan orang lain dalam menangani pekerjasan.
2 Share information (membagi informasi dengan orang lain).
3 Kita punya harapan positif terhadap team, menggunakan istilah-istilah positif untuk membangkitkan semangat tim, menunjukkan respek pada orang lain.
4 Kita bisa memberi dan menerima input yang positif demi kebaikan team
5 Kita memberdayakan anggota lain yang masuk dalam tim agar bisa mencapai kinerja yang bagus.
6 Kita termasuk orang yang bisa membangun team, bisa menciptakan iklim dalam team secara bersahabat, punya moral yang bagus dan punya pendekatan yang bagus dalam menjaga reputasi team di mata orang lain.
7 Kita sudah punya kesanggupan dalam menangani konflik secara positif dan melahirkan efek yang positif dalam team.
Sumber: Competence At Work, Model for Superior Performance, 1997

Ada satu catatan yang ingin saya kemukakan di sini. Sejauh ini, berbagai kajian yang serius mendalami hubungan antarmanusia, termasuk juga tim ini, ternyata memberikan skor atau skala yang paling tinggi terhadap kemampuan menangani konflik, friksi, atau perbedaan. Jadi, kalau kita sudah bisa menangani hal-hal seperti itu secara positif dan berdampak positif, atau minimalnya tidak sampai melahirkan kerusakan, maka kita tergolong orang yang punya kemampuan bagus.

Contoh yang bisa kita lihat misalnya kajian dari Microsof Education Centre.
Di lembaga ini, kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain diawali dari penjelasan di bawah ini:

NO LEVEL DESKRIPSI
01 Rendah Anda baru bisa berteman dengan orang lain, baru bisa menyenangkan orang lain, atau baru bisa bercakap-cakap dengan orang lain.
02 Menengah Anda sudah sanggup membangun hubungan secara konstruktif berdasarkan bidang, punya hubungan yang bertahan lama, dan bisa menempatkan orang di tempatnya yang layak
03 Atas Anda sudah bisa memberikan toleransi, bisa membangun diplomasi, bisa mencairkan ketegangan, bisa menebar kedamaian, dan bisa memperlakukan orang secara sabar dan penuh hormat
04 Tinggi / Ahli Anda sudah sanggup membangun hubungan dengan bagus, bisa mengatasi konflik secara positif, dan bisa menangani “orang sulit” (trouble maker) secara efektif dan efisien.
Untuk catatan, yang tergolong bisa disebut sebagai “orang sulit” adalah:
orang yang selalu mengkritik, selalu mendebat, selalu ingin menguasai, selalu ingin menang sendiri, selalu ingin ikut campur, selalu protes, selalu bikin masalah, dan seterusnya. Menurut definisinya Paul B. Thornton, kolomnis The CEO Refresher, (2002), ciri-ciri orang sulit itu adalah:

– The aggressor: memaksakan kehendak, menggunakan bahasa yang kasar, otoriter, main pecat, dan semisalnya

– The victim: selalu menyalahkan orang lain, selalu ngomel karena merasa dirugikan orang lain, selalu menuding orang lain sebagai faktor kerugian, dan seterusnya.

– The rescuer: selalu ingin ikut campur, terlalu takut dibenci orang dan terlalu ingin dipuji orang, dan semisalnya.

Memang kalau menyimak kisah para nabi di zaman dulu, kehandalan beliau-beliau itu ditunjukkan melalui kecakapannya dalam mengubah / membalik antipati menjadi partisipasi. Ini mungkin level paling tinggi dalam skala hubungan antarmanusia. Para nabi itu tidak ditakdirkan merealisasikan visinya dengan lancar semudah membalik tangan. Mereka memiliki musuh dan juga pendukung. Mereka handal dalam bernegoisasi dan berkompromi. Lebih-lebih dalam membangun teamwork.

Kecakapan Umum Secara umum bisa dijelaskan bahwa untuk bisa terampil dalam bekerjasama dengan team, yang dibutuhkan adalah dua hal, yaitu: a) kecakapan menjalin hubungan dengan diri sendiri, dan b) kecakapan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Kecakapan menjalin hubungan dengan diri sendiri menjadi kunci. Bentuk-bentuknya antara lain:

Pertama, memiliki penilaian yang akurat terhadap diri sendiri. Akurat di sini bukan hasil melainkan proses. Maksudnya, semakin akurat kita punya penilaian, semakin bagus permainan kita dalam team. Ini misalnya kita mengetahui dimana kita unggul dan dimana kita kurang unggul, dimana kita kurang, dan dimana orang lain lebih, apa yang sanggup kita lakukan (berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan prediksi) dan apa yang tidak sanggup kita lakukan.

Umumnya, ketika kita kurang akurat dalam menilai diri sendiri, bahaya yang kerap muncul adalah: antara minder atau over, antara maunya memimpin terus atau maunya di belakang terus, dan lain-lain. Baik minder atau over, dua-duanya sangat kurang dibutuhkan dalam team. Biarpun kita jago di bidang kita, namun kalau kitanya over, misalnya arogan, sok mahal, me-looking-down orang lain, atau yang lainnya, ini pasti kurang menghangatkan team.

Kedua, memiliki cara atau sistem pengelolaan emosi yang bagus. Ini juga proses. Orang yang punya kemampuan dalam mengelola emosinya secara bagus itu adalah orang yang punya perasaan positif terhadap dirinya (good self-worth) berdasarkan pengalaman personalnya secara faktual, bisa menggali motivasi dari dalam dirinya, bisa mengontrol emosinya supaya tidak sampai melahirkan tindakan yang kebablasan, bisa meresponi stressor dengan cara-cara yang tidak merusak diri sendiri, dan lain-lain. Biasanya, ketika kita kurang bagus dalam mengelola emosi, bahaya yang berpotensi muncul adalah: ngambekkan, suka nekad, frustasi, atau gampang cabut dari team.

Ketiga, memiliki kematangan spiritual. Ini, lagi-lagi, adalah proses.
Kematangan spiritual yang dibutuhkan adalah: kemampuan membedakan sesuatu yang baik dan bermanfaat di antara sekian yang tidak baik dan yang tidak bermanfaat. Ini misalnya saja lebih memilih dialog secara fair ketimbang berdebat secara “kusir”, lebih menomersatukan visi bersama ketimbang pertahanan egoisme posisi, lebih memilih kebenaran universal ketimbangan kebenaran personal (benernya sendiri).

Itu adalah sebagian yang terkait dengan kecakapan intrapersonal (hubungan dengan diri sendiri). Sedangkan yang terkait dengan kecakapan interpersonal adalah, antara lain:

Pertama, punya kelihaian dalam menghormati orang, dari mulai level ucapan, sikap, dan sampai ke tindakan. Hubungan kita dengan tim akan terganggu kalau kita memiliki ucapan-ucapan yang tidak sopan, menyakitkan, atau melecehkan orang lain. Begitu juga dengan sikap. Karena itu, dikatakan bahwa ucapan yang bagus, sikap yang bagus atau tindakan yang bagus, adalah paspor yang berlaku untuk semua warga negara.

Kedua, memiliki komitmen yang kuat untuk menaati kesepakatan. Pelanggaran kita atas kesepakatan bersama dapat berpotensi menyusahkan orang banyak yang terlibat dalam team. Terkait dengan komitmen ini, kita kerap menjumpai ada prilaku sebagian kita yang membingungkan para malaikat. Bentuk prilaku yang membingungkan itu adalah, kita sedih atau bingung karena tidak ada job, tetapi ketika dikasih job, kita menjalankannya dengan komitmen yang asal-asalan. Bahkan dalam beberap kasus saya kerap menjumpai misalnya sebuah tim sedangan mengupayakan kerja keras untuk mendapatkan hasil (result), namun begitu hasil itu hampir didapatkannya, yang muncul adalah konflik atau tawar menawar yang hanya didasarkan pada kepentingan egoisme dan akhirnya gagal. Ini juga termasuk prilaku yang membingungkan para malaikat.

Ketiga, punya kematangan dalam menangani persoalan-persoalan yang muncul di luar skenario. Misalnya saja kita sudah berjanji akan menyelesaikan pekerjaan pada waktu dan standar yang telah ditetapkan. Tapi tiba-tiba ada kesulitan atau hambatan di tengah jalan. Kalau bicara “rasa” tentu pasti rasanya tidak enak. Nah, yang dibutuhkan dari kita sebetulnya bukan hanya merasakan itu, melainkan bagaimana kita menjelaskan persoalan yang sebenarnya dan mencari alternatif penyelesaiannya. Untuk menjelaskan hal-hal seperti ini dibutuhkan keterbukaan, kematangan dan keberanian. Yang kerap menyusahkan sebuah tim adalah ketika tidak ada penjelasan apa-apa dari kita, sementara pekerjaan yang ditugaskan ke kita juga terbengkalai.

Keempat, empati. Empati adalah kapasitas seseorang untuk bisa berbagi dengan yang lain yang disemangati oleh rasa kepedulian. Dalam sebuah tim, empati ini sangat penting. Bentuk-bentuk empati itu antara lain: memberikan masukan positif, memberikan pelayanan / memudahkan orang lain, mengembangkan orang lain, menjaga kesopanan dalam pergaulan, memahami aturan main yang berlaku, baik yang tertulis atau yang tidak tertulis, dan lain-lain. Di berbagai literatur dikatakan bahwa empati ini merupakan ciri khas paling menonjol orang-orang yang memiliki interpersonal yang bagus.

Kelima, kesediaan belajar untuk menjadi bijak (the wise). Seperti apa orang bijak itu? Orang bijak adalah orang yang bisa memilih keputusan atau tindakan positif atau yang berdampak positif untuk hal-hal yang sifatnya memilih atau pilihan (choice). Dalam sebuah team, ini adalah tuntutan yang sangat vital. Kenapa? Dalam sebuah team itu ‘kan pasti ada orang yang berbeda-beda.

Ketika menghadapi ini kita dikasih pilihan yang tak terbatas, misalnya: membenci, menyukai, mendiamkan, mengarahkan, melawan, dan lain-lain. Orang bijak akan memilih sikap, keputusan atau tindakan yang kira-kira berdampak positif pada hal-hal yang sifatnya pilihan itu. Tentu saja, untuk menjadi bijak ini tidak bisa langsung “jadi”. Pasti ada proses yang disebut pembelajaran. Pembelajaran di sini artinya kita mengubah prilaku kita ke arah yang lebih baik dari praktek yang kita jalankan.

Itulah sebagian dari sekian hal yang kita butuhkan dalam bekerjasama dengan team. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut